GACOO.ID — Narkoba bisa merusak masa depan, sementara masa depan sendiri tidak bisa dibeli kembali. Pesan itulah yang disampaikan Polda Maluku Utara kepada siswa-siswi SMA Negeri 5 Tikep dalam sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba di aula sekolah, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Kabag Wasidik Ditresnarkoba Polda Malut AKBP Busranto Abdullatif, Kasubdid Sunluhkum Bidkum Polda Malut AKBP Latuwo, serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, Rohani Salaha.
Di hadapan para pelajar, AKBP Busranto menjelaskan bahwa narkoba bukan sekadar persoalan melanggar hukum. Penyalahgunaannya juga dapat merusak kesehatan fisik dan mental, mengganggu konsentrasi belajar, hingga menghambat prestasi dan cita-cita.
Dengan kata lain, masa depan yang dibangun bertahun-tahun bisa dipertaruhkan hanya karena keputusan sesaat. Sayangnya, rasa penasaran terkadang datang lebih cepat daripada kemampuan seseorang mempertimbangkan akibat.
Busranto mengingatkan para siswa agar berani menolak ajakan mencoba narkoba, selektif memilih teman, serta mengisi waktu dengan kegiatan positif. Pesannya sederhana: tidak semua ajakan teman harus diterima, apalagi jika ujungnya justru merugikan diri sendiri.
Di tengah lingkungan pergaulan dan ruang digital yang semakin luas, pelajar juga dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis. Sebab, sesuatu yang ramai dicoba atau dianggap biasa oleh lingkungan belum tentu benar, apalagi aman.
Namun, pencegahan narkoba tentu tidak cukup hanya dengan ceramah dan imbauan sesekali. Pesan bahaya narkoba perlu diikuti pengawasan yang konsisten, komunikasi terbuka dalam keluarga, serta lingkungan sekolah yang mampu menjadi tempat aman bagi siswa untuk mencari bantuan ketika menghadapi tekanan pergaulan.
Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab masing-masing. Membebankan seluruh persoalan kepada pelajar tanpa memperhatikan lingkungan yang membentuk perilakunya jelas bukan jalan keluar yang memadai.
Polda Malut berharap sosialisasi tersebut dapat menumbuhkan keberanian pelajar untuk menolak narkoba, saling mengingatkan, serta fokus mengembangkan potensi diri.
Pada akhirnya, keberhasilan edukasi ini tidak semata-mata diukur dari berapa banyak siswa yang hadir atau berapa lama materi disampaikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pesan tersebut dipahami, diterapkan, dan didukung oleh lingkungan yang nyata-nyata melindungi generasi muda.
Sebab, menjaga pelajar dari narkoba bukan pekerjaan satu hari di aula sekolah. Itu pekerjaan panjang yang menuntut keteladanan, kepedulian, dan tindakan nyata—bukan sekadar pesan yang terdengar baik, lalu dilupakan setelah kegiatan selesai.

Komentar