Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Perkuat Karakter Generasi Muda, Wali Kota Ternate Inisiasi Rencana Aksi 90 Hari

Perkuat Karakter Generasi Muda, Wali Kota Ternate Inisiasi Rencana Aksi 90 Hari

Gambar Maks 200kb 30
Wali Kota Ternate, H. M. Tauhid Soleman saat menjadi narasumber. (Foto : Humas Pemkot).

GACOO.ID — Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman menegaskan urgensi kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem pendidikan karakter yang kokoh berbasis kearifan lokal. Komitmen tersebut diserukan dalam Seminar Peringatan Hari Santri Kota Ternate di aula Kantor Wali Kota, Sabtu (24/10/2026).

Tauhid memaparkan, pembentukan karakter generasi muda tidak dapat dibebankan semata kepada institusi formal. Diperlukan sinergi trikotomi pendidikan yang mencakup rumah, sekolah atau pesantren, serta masjid.

“Rumah menanamkan nilai, sekolah menumbuhkan ilmu, masjid menghidupkan iman dan kepedulian. Ketika ketiganya bersinergi dengan kearifan lokal, kita sedang menyiapkan generasi yang berakar kuat dan mampu melangkah jauh,” ujar Tauhid.

Dalam kerangka tersebut, rumah diposisikan sebagai fondasi penanaman kasih sayang dan adab. Sementara itu, sekolah dan pesantren berperan mengasah nalar kritis serta akhlak mulia, yang kemudian disempurnakan oleh masjid dan masyarakat sebagai ruang penguatan spiritual serta solidaritas sosial.

Guna mengintegrasikan ketiga pilar tersebut, Tauhid merumuskan empat prinsip dasar: keselarasan pesan melalui keteladanan, pengutamaan kolaborasi alih-alih saling menyalahkan, penciptaan ruang yang inklusif dan aman bagi anak, serta keseimbangan antara penguasaan teknologi dan penanaman nilai agama.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Lebih lanjut, ia menekankan agar kearifan lokal tidak sekadar menjadi simbol seremonial, melainkan termanifestasi dalam praksis kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai historis dan kultural Maluku Utara—seperti filosofi adat se atorang, penghormatan kepada guru dan orang tua, semangat gotong royong, hingga identitas maritim dan sejarah rempah—harus diinternalisasi ke dalam proses pembelajaran.

Menghadapi tantangan era digital, mulai dari distraksi gawai, arus disinformasi, perundungan, hingga alienasi antargenerasi, pemerintah daerah mendorong penguatan budaya tabayun dan literasi digital secara komprehensif.

Sebagai langkah konkret, Tauhid menginstruksikan penyusunan rencana aksi 90 hari yang melibatkan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, orang tua, pendidik, dan pengurus rumah ibadah. Agenda ini dimulai dengan pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal pada 15 hari perdana, yang kemudian dilanjutkan dengan eksekusi program berbasis kearifan lokal hingga evaluasi berkala di tingkat kelurahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with