GACOO.ID – Harga komoditas pala dan cengkih di Kota Ternate, Maluku Utara, kembali bergerak naik pada pekan ketiga Oktober 2026 setelah sempat mengalami penurunan. Harga fuli atau bunga pala kini mencapai Rp310 ribu per kilogram, sedangkan biji pala kualitas premium menembus Rp100 ribu per kilogram.
Kenaikan ini terjadi di tengah menurunnya pasokan dari petani akibat musim kemarau yang berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026. Di sisi lain, permintaan pasar disebut meningkat, sehingga mendorong harga kedua komoditas unggulan Maluku Utara tersebut kembali menguat.
Salah satu pedagang pengumpul di Toko Harapan Karya, Ruben, mengatakan harga pala sempat melemah pada pekan kedua Oktober. Namun, memasuki pekan ketiga, harga kembali naik dan masih berada dalam kisaran normal.
“Sedangkan biji pala yang kualitasnya A atau premium harganya Rp95 hingga Rp100 ribu. Sementara kualitas B atau yang berada di bawah standar harganya berkisar Rp60 hingga Rp70 ribu rupiah,” ujar Ruben, Rabu (21/10/2026), sebagaimana yang dilansir Kotapost.id.
Menurut Ruben, harga fuli saat ini mencapai Rp310 ribu per kilogram. Sementara biji pala kualitas A atau premium dijual Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, sedangkan kualitas B berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan, berkurangnya pasokan dari petani menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan musim kemarau yang berdampak pada produksi dan distribusi hasil perkebunan masyarakat.
“Musim panas ini telah membuat distribusi pasokan pala menurun. Akibat pasokan yang turun membuat harga otomatis naik, karena permintaan pasar yang meningkat. Kemungkinan besar nanti Desember 2026 baru distribusi pasokan akan membaik, itu pun kalau hujan,” jelasnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cengkih. Saat ini, harga cengkih di Ternate mencapai Rp125 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp110 ribu per kilogram sekitar satu bulan lalu.
“Untuk cengkih harganya mencapai Rp125 ribu rupiah. Satu bulan yang lalu sempat mengalami penurunan harga hingga mencapai pada Rp110 ribu rupiah,” katanya.
Ruben menyebutkan, pasokan pala dan cengkih yang diperdagangkan di Ternate sebagian besar berasal dari sejumlah wilayah di Pulau Halmahera, antara lain Jailolo, Bacan, Obi, Gane Timur, dan Gane Barat.
Sementara itu, masyarakat Kota Ternate juga rutin menjual hasil panen, tetapi dalam jumlah relatif kecil. Pasokan dalam volume besar lebih banyak berasal dari petani di wilayah-wilayah tersebut.
Meski kenaikan harga memberi peluang bagi petani memperoleh pendapatan lebih baik, dampak positifnya tetap bergantung pada jumlah hasil panen yang tersedia. Pasalnya, kenaikan harga di tingkat perdagangan tidak otomatis menjamin peningkatan pendapatan apabila produksi petani menurun akibat kemarau.
Dengan pasokan yang diperkirakan baru membaik pada Desember jika curah hujan kembali mendukung, pergerakan harga pala dan cengkih dalam beberapa pekan ke depan masih akan dipengaruhi keseimbangan antara ketersediaan barang dan permintaan pasar.

Komentar