Pemerintah
Beranda / Pemerintah / Sherly Laos Siapkan Inovasi Jalan Tani 2027, Biaya Diklaim Hemat Rp50 Juta

Sherly Laos Siapkan Inovasi Jalan Tani 2027, Biaya Diklaim Hemat Rp50 Juta

Siapkan Inovasi Jalan Tani 2027

Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, menyiapkan inovasi pengerasan tanah menggunakan campuran semen dan bahan kimia khusus sebagai alternatif pembangunan jalan tani pada 2027. Metode tersebut diproyeksikan dapat menghemat anggaran hingga Rp50 juta untuk setiap pekerjaan jalan dibandingkan penggunaan material pasir, batu, dan kerikil (sirtu).

Sherly meninjau langsung uji coba inovasi tersebut di halaman belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Maluku Utara, Sabtu (10/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia didampingi Kepala Dinas PUPR Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar, bersama jajaran.

Gubernur bahkan menguji kekuatan permukaan tanah yang telah mengeras dengan memukulnya menggunakan sekop. Ia juga meminta sejumlah staf PUPR melakukan pengujian serupa sebelum berdiskusi mengenai proses pengerjaan dan rencana penerapan metode tersebut.

“Jadi ini inovasi jalan tani versi Dinas PUPR. Tidak pakai sirtu, cukup tanah, tetapi harus dipastikan tidak ada kotoran, plastik, maupun batu. Murni tanah,” kata Sherly.

Ia menjelaskan, proses pengerjaan dimulai dengan menyiapkan tanah yang bersih, kemudian memadatkannya sebelum dicampur dengan semen dan bahan kimia khusus atau chemical.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Menurut Sherly, metode tersebut diklaim mampu bertahan hingga 10 tahun. Karena itu, pemerintah provinsi berencana menerapkannya dalam pembangunan jalan tani pada 2027 sebagai alternatif konstruksi yang selama ini menggunakan sirtu.

“Jalan tani 2027 kita sudah pakai inovasi ini. Tidak pakai sirtu lagi. Setelah dibuka menggunakan dozer, langsung tanah, semen, dan campuran chemical,” ujarnya.

Dari sisi anggaran, Sherly menyebut pembangunan jalan tani menggunakan sirtu membutuhkan biaya sekitar Rp250 juta. Sementara itu, metode campuran tanah, semen, dan bahan kimia diperkirakan menelan anggaran Rp200 juta.

Dengan demikian, metode baru tersebut berpotensi menghemat sekitar Rp50 juta untuk setiap pekerjaan jalan. Sherly mengusulkan agar selisih anggaran itu dialihkan untuk membangun drainase di kedua sisi jalan guna mendukung fungsi dan ketahanan infrastruktur.

“Kalau bisa, Rp50 juta itu buat saja drainase di kiri dan kanan jalan tani,” katanya.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Meski demikian, penerapan inovasi tersebut pada 2027 akan bergantung pada hasil pengujian dan kepastian daya tahan konstruksi di lapangan. Klaim ketahanan hingga 10 tahun serta efisiensi biaya perlu didukung evaluasi teknis agar metode tersebut memenuhi standar pembangunan jalan tani.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with