Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Nanang Lanae Butuh Perhatian Pemerintah, Usaha Arang Tempurung Kelapa yang Membuka Lapangan Kerja Terhenti

Nanang Lanae Butuh Perhatian Pemerintah, Usaha Arang Tempurung Kelapa yang Membuka Lapangan Kerja Terhenti

Gambar Maks 200kb 51
Nanang Lanae.

“Yang kami butuhkan sebenarnya dukungan agar usaha ini bisa berjalan kembali, baik bantuan modal, tempat penampungan arang maupun peralatan produksi. Kalau usaha ini kembali berjalan, ibu-ibu yang sebelumnya bekerja juga bisa mendapatkan penghasilan lagi,”

GACOO.ID – Merantau dengan harapan memperbaiki kehidupan bukan perkara mudah. Bagi Nanang Lanae (51), keputusan meninggalkan kampung halaman di Desa Rawa Jaya, Kabupaten Halmahera Utara, dan hijrah ke wilayah Oba, Kota Tidore Kepulauan, menjadi awal perjuangan membangun kehidupan yang lebih baik.

Nanang tiba di Desa Gita pada Desember 2024. Berbekal kemauan untuk bekerja dan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya, ia mulai merintis usaha produksi arang tempurung kelapa pada Januari 2025.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Di tengah keterbatasan ekonomi, Nanang melihat tempurung kelapa yang kerap dianggap sebagai limbah justru memiliki nilai ekonomi apabila diolah dengan baik.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Dari bahan sederhana tersebut, ia berusaha membangun usaha kecil yang tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi dirinya, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Perlahan, usaha itu mulai melibatkan 20 ibu rumah tangga. Mereka mendapat pekerjaan memisahkan sabut atau serabut kelapa dari tempurungnya sebagai bagian dari proses awal produksi arang.

Setiap kilogram hasil pemisahan dihargai Rp1.000. Nilainya memang relatif kecil, tetapi pekerjaan tersebut memberikan tambahan penghasilan bagi para ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Tempat usaha arang tempurung Nanang.

Di balik aktivitas sederhana itu, ada perputaran ekonomi yang tumbuh dari usaha kecil. Nanang tidak hanya menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi turut membuka ruang bagi 20 perempuan untuk memperoleh pendapatan.

Namun, perjalanan usaha yang baru dirintis itu tidak selalu berjalan mulus.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Saat ini, aktivitas produksi terpaksa terhenti sementara. Keterbatasan modal membuat Nanang kesulitan melanjutkan kegiatan usaha sekaligus mempertahankan pekerjaan yang sebelumnya diberikan kepada 20 ibu rumah tangga tersebut.

Bagi Nanang, terhentinya produksi bukan hanya persoalan keberlangsungan usaha, tetapi juga menyangkut kesempatan kerja bagi para perempuan yang selama ini ikut membantu proses produksi.

“Saya berharap pemerintah, baik Pemerintah Kota Tidore Kepulauan maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui dinas terkait, bisa melihat dan memberikan perhatian terhadap usaha yang saya rintis ini. Saya ingin usaha arang tempurung kelapa ini bisa kembali berjalan karena selama ini bukan hanya membantu ekonomi keluarga saya, tetapi juga memberikan pekerjaan kepada 20 ibu-ibu di sekitar sini,” ujar Nanang saat menghubungi media, Sabtu (31/10/2026).

Persoalan lain yang dihadapi adalah belum tersedianya rumah penampungan yang memadai untuk menyimpan arang hasil produksi. Ketiadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu kendala dalam menjaga kelangsungan produksi dan meningkatkan kapasitas usaha.

Nanang mengatakan, keterbatasan modal dan belum tersedianya tempat penampungan arang yang memadai menjadi kendala utama untuk melanjutkan sekaligus mengembangkan usahanya.

Menaker Bedah Budaya K3 di IWIP, Human Error Bukan Satu-satunya Penyebab Kecelakaan

“Yang kami butuhkan sebenarnya dukungan agar usaha ini bisa berjalan kembali, baik bantuan modal, tempat penampungan arang maupun peralatan produksi. Kalau usaha ini kembali berjalan, ibu-ibu yang sebelumnya bekerja juga bisa mendapatkan penghasilan lagi,” katanya.

Kondisi ini membuat usaha yang sebelumnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar berada dalam situasi sulit. Bagi Nanang, ada harapan yang ikut tertunda, termasuk kesempatan kerja bagi para ibu yang sebelumnya memperoleh penghasilan dari usaha tersebut.

Kisah Nanang memperlihatkan bagaimana inisiatif masyarakat kecil dapat melahirkan kegiatan ekonomi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia, ia mencoba menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini kurang diperhitungkan.

Sayangnya, kemauan untuk berusaha belum selalu cukup ketika pelaku usaha berhadapan dengan keterbatasan modal dan fasilitas pendukung.

Butuh Perhatian Pemkot Tidore dan Pemprov Maluku Utara

Kondisi yang dialami Nanang patut mendapat perhatian serius, baik dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi koperasi, UMKM, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Usaha yang dirintis sejak Januari 2025 itu memiliki potensi untuk dikembangkan. Apalagi, kegiatan tersebut telah memberikan kesempatan kerja kepada 20 ibu rumah tangga. Artinya, keberlangsungan usaha ini bukan hanya menyangkut kepentingan seorang pelaku UMKM, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Pemerintah Kota Tidore Kepulauan diharapkan dapat melakukan peninjauan langsung melalui dinas terkait untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi Nanang. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga diharapkan memberikan perhatian melalui program pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan UMKM sesuai kewenangannya.

Dukungan yang dibutuhkan tidak semata-mata berupa bantuan modal. Penyediaan rumah penampungan arang, peralatan produksi, pendampingan pengelolaan usaha, serta akses pemasaran merupakan kebutuhan yang perlu dipertimbangkan secara konkret.

Dukungan lintas pemerintahan menjadi penting agar usaha kecil yang memiliki dampak sosial dan ekonomi seperti ini tidak luput dari perhatian. Terlebih, Nanang telah menunjukkan inisiatif untuk membangun usaha secara mandiri dan melibatkan masyarakat dalam kegiatan produktif.

Pemerintah juga perlu melihat bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya diukur dari jumlah pelaku usaha yang terdata atau program bantuan yang disalurkan. Keberhasilan pemberdayaan seharusnya tercermin dari kemampuan usaha bertahan, berkembang, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dalam konteks usaha Nanang, menghidupkan kembali produksi berarti membuka peluang kerja bagi 20 ibu rumah tangga yang sebelumnya terlibat. Ini merupakan bentuk pemberdayaan ekonomi yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga di lingkungan sekitar.

Perjalanan Nanang dari Desa Rawa Jaya, Halmahera Utara, menuju Gita di wilayah Oba merupakan gambaran tentang perjuangan seseorang yang berusaha mengubah nasib melalui kerja keras. Pada usia 51 tahun, ia memilih tidak menyerah pada keterbatasan, tetapi mencoba membangun peluang dari apa yang tersedia di sekitarnya.

Kini, usaha yang pernah menjadi sumber penghasilan bagi dirinya dan 20 ibu rumah tangga itu membutuhkan dukungan agar tidak berhenti di tengah jalan.

Perhatian pemerintah tidak seharusnya hanya hadir dalam bentuk program di atas kertas. Perlu ada langkah nyata untuk melihat kondisi pelaku usaha kecil yang telah berinisiatif menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi terkendala modal dan fasilitas.

Tempurung kelapa yang semula dianggap limbah telah diubah Nanang menjadi sesuatu yang bernilai. Dari usaha sederhana itu, 20 ibu rumah tangga pernah mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan.

Kini, Nanang membutuhkan perhatian agar bara usahanya kembali menyala. Bukan hanya demi keberlangsungan usahanya sendiri, melainkan juga demi menghidupkan kembali harapan 20 ibu rumah tangga yang pernah bekerja bersamanya.

Sebuah usaha kecil mungkin tidak langsung mengubah perekonomian daerah. Namun, ketika satu usaha mampu membuka kesempatan kerja bagi 20 orang, sudah sepatutnya pemerintah hadir memberikan dukungan agar perjuangan tersebut tidak berakhir sia-sia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with