GACOO.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mulai terjadi di Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Selasa (20/10/2026) pagi. Sejumlah depot penjualan BBM eceran dilaporkan kehabisan stok secara hampir bersamaan sekitar pukul 08.00 WIT, meski pada dua jam sebelumnya bahan bakar masih tersedia.
Kondisi tersebut mulai memicu antrean kendaraan roda dua di sejumlah depot. Warga terlihat mendatangi tempat penjualan BBM untuk mendapatkan bensin, sementara sejumlah pengendara terpaksa menunggu di tepi jalan.
Berdasarkan pantauan media ini, antrean sepeda motor tampak mengular di depan salah satu tempat penjualan BBM. Sejumlah warga dan pengendara berkumpul di sekitar depot, sementara aktivitas kendaraan tetap berlangsung di ruas jalan desa.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama karena persediaan bensin yang sebelumnya masih tersedia disebut mendadak habis dalam rentang waktu sekitar dua jam.
Salah satu warga Desa Sagea, Sandi Yusup, mengaku masih melihat persediaan bensin di depot pada sekitar pukul 06.00 WIT. Namun, ketika kembali mendapati kondisi di lapangan sekitar pukul 08.00 WIT, sejumlah depot disebut telah kehabisan stok.
“Aneh sekali, dong ini pe mangarti bagimana, pagi tadi ada, jam begini (pukul 08.00 WIT, red), minyak su trada,” ujar Sandi.
Menurut dia, perubahan kondisi tersebut berlangsung begitu cepat sehingga menimbulkan keheranan di kalangan warga.
Kekosongan stok yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah depot juga memunculkan pertanyaan mengenai pola pasokan dan distribusi BBM ke wilayah tersebut.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan terverifikasi mengenai jumlah persediaan BBM yang tersedia sebelum kehabisan, volume penjualan pada pagi hari, maupun penyebab pasti kekosongan tersebut.
Berbeda dengan Pernyataan Pemerintah
Fenomena di Sagea terjadi di tengah pernyataan Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengenai ketersediaan BBM yang disebut masih aman.
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, sebelumnya meninjau Fuel Terminal (FT) Ternate untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran pasokan BBM. Berdasarkan hasil pemantauan pada 18 Oktober 2026, stok di terminal tersebut diperkirakan memiliki ketahanan sekitar enam hingga 16 hari, dengan tambahan pasokan yang dijadwalkan tiba melalui kapal pada 21 dan 23 Oktober 2026.
Sebelumnya media ini memberitakan bahwa pemerintah mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi stok di tingkat terminal dan rencana penambahan pasokan. Namun, kondisi di Sagea memperlihatkan persoalan yang perlu ditelusuri lebih jauh, yakni apakah ketersediaan BBM di tingkat pemasok sejalan dengan kelancaran distribusi hingga ke tingkat penjual dan konsumen.
Stok yang dinyatakan aman di terminal tidak serta-merta menjamin setiap depot di desa memiliki persediaan yang cukup setiap saat. Ketersediaan di tingkat lokal juga bergantung pada jalur distribusi, jadwal pengiriman, permintaan masyarakat, serta mekanisme penjualan.
Karena itu, kekosongan BBM di Sagea belum dapat dijadikan bukti bahwa stok regional telah habis. Sebaliknya, peristiwa ini menjadi alasan untuk memeriksa apakah terdapat hambatan distribusi atau faktor lain yang menyebabkan BBM tidak tersedia di tingkat masyarakat.
Warga Membutuhkan Kepastian
Bagi warga Sagea, BBM merupakan kebutuhan penting untuk menunjang mobilitas, pekerjaan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Kekosongan yang berlangsung mendadak berpotensi mengganggu kegiatan masyarakat, terutama jika tidak segera diikuti dengan pasokan baru.
Pemerintah daerah, pihak Pertamina, dan instansi terkait diharapkan memberikan penjelasan mengenai kondisi pasokan BBM di wilayah Weda Utara, termasuk jadwal distribusi dan langkah penanganan apabila terjadi kekosongan di tingkat pengecer.
Pemeriksaan juga diperlukan untuk memastikan apakah kekosongan tersebut disebabkan oleh lonjakan permintaan, keterlambatan pasokan, keterbatasan stok di tingkat pemasok, atau faktor lain.
Dengan demikian, persoalan di Sagea tidak berhenti pada antrean kendaraan dan habisnya bensin di sejumlah depot. Peristiwa ini perlu menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas distribusi BBM hingga ke wilayah pedesaan.
Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa ketersediaan BBM yang dinyatakan aman oleh pemerintah benar-benar diikuti distribusi yang lancar, terukur, dan dapat diakses secara wajar oleh warga.

Komentar