Olahraga
Beranda / Olahraga / MU Dibantai 1-4 oleh Como, Setan Merah Kini Punya Bakat Baru: Memalukan Diri Sendiri

MU Dibantai 1-4 oleh Como, Setan Merah Kini Punya Bakat Baru: Memalukan Diri Sendiri

File 00000000dab88211956d1e9b1a47c746
Foto : detik.com.

Manchester United kalah 1-4 dari Como 1907 pada matchday ketiga Liga Champions. Kalau ini audisi mencari cara baru untuk mengecewakan suporter, Setan Merah tampaknya tampil tanpa pesaing.

Ada banyak cara untuk membuat suporter sepak bola kehilangan kesabaran. Ada yang kalah karena lawannya memang lebih bagus. Ada yang kalah karena pemainnya kelelahan. Ada pula yang kalah karena kesalahan taktis. Manchester United, seperti biasa, tampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menggabungkan semuanya sekaligus.

Bertandang ke Stadion Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907, Rabu malam (21/10/2026) waktu Indonesia, MU pulang membawa kekalahan 1-4. Bukan sekadar kalah, tetapi kalah dengan cara yang membuat orang bertanya-tanya: sebenarnya siapa yang sedang membangun tim besar di sini?

Como, klub yang namanya mungkin belum terlalu akrab di telinga sebagian penggemar sepak bola dibandingkan Manchester United, justru tampil seperti tuan rumah yang tahu betul apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, Setan Merah terlihat seperti rombongan wisata yang baru sadar bahwa mereka salah turun di stadion lawan.

Baru Dua Menit, MU Sudah Mengundang Masalah

Pertandingan belum genap berjalan dua menit ketika Nico Paz membobol gawang Manchester United. Penonton belum tentu selesai mencari posisi duduk yang nyaman, tetapi lini pertahanan MU sudah lebih dulu memberi hadiah kepada tuan rumah.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Gol cepat itu bukan sekadar soal konsentrasi yang terlambat panas. Ada persoalan lebih mendasar ketika sebuah tim sebesar Manchester United kembali kebobolan pada menit-menit awal. Seolah-olah kick-off bagi MU bukan tanda pertandingan dimulai, melainkan aba-aba agar lawan segera mencoba keberuntungan.

Catatan Opta yang dikutip dalam laporan tersebut bahkan menyebut MU menjadi tim Premier League pertama yang kebobolan dalam dua menit pertama pertandingan untuk dua kali secara beruntun. Sebelumnya, mereka juga kebobolan pada menit pertama ketika menghadapi Atletico Madrid di matchday pertama.

Kalau kejadian serupa berlangsung sekali, orang mungkin menyebutnya kecelakaan. Kalau terulang, istilah yang lebih masuk akal adalah masalah. Dan kalau terjadi berulang kali pada klub sebesar MU, barangkali sudah waktunya berhenti menyalahkan nasib.

Como Menambah Gol, MU Menambah Alasan untuk Kecewa

Setelah gol pembuka Paz, Como tidak terlihat ingin berhenti. Mereka justru semakin percaya diri, sementara MU seakan kesulitan menemukan tombol untuk mengembalikan kendali permainan.

Anastasios Douvikas menggandakan keunggulan Como pada menit ke-49. Delapan menit berselang, Paz kembali mencatatkan namanya di papan skor sekaligus membukukan brace. Pada menit-menit berikutnya, Jacobo Ramon melengkapi pesta gol Como sehingga skor berubah menjadi 4-0.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Empat gol bersarang. Dan pertahanan MU? Tampaknya lebih sibuk menjadi penonton daripada menjadi penghalang.

Manchester United memang akhirnya mendapatkan gol hiburan melalui Joshua Zirkzee pada menit-menit akhir. Skor berubah menjadi 4-1, angka yang setidaknya menyelamatkan mereka dari kekalahan tanpa gol.

Namun, gol hiburan dalam pertandingan seperti ini mirip payung yang baru dibuka setelah seluruh badan telanjur basah kuyup. Ada gunanya, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa semuanya sudah telanjur berantakan.

Tujuh Laga Tanpa Menang, tetapi Masalahnya Bukan Cuma Angka

Kekalahan dari Como memperpanjang catatan buruk MU yang disebut belum menang dalam tujuh pertandingan beruntun. Di Liga Champions, mereka juga sudah menelan dua kekalahan dari tiga pertandingan pertama.

Angka-angka itu semestinya cukup untuk memicu evaluasi serius. Sebab, masalah Manchester United bukan hanya kehilangan tiga poin, melainkan kesulitan menunjukkan konsistensi dan ketahanan ketika menghadapi tekanan.

Menaker Bedah Budaya K3 di IWIP, Human Error Bukan Satu-satunya Penyebab Kecelakaan

Klub sebesar MU tentu tidak kekurangan sejarah untuk dibanggakan. Mereka punya nama besar, basis suporter global, serta masa lalu yang membuat lawan segan. Namun, sejarah tidak bisa turun ke lapangan untuk menutup ruang tembak lawan. Trofi lama juga tidak bisa berlari mengejar pemain yang lepas dari penjagaan.

Di sepak bola, reputasi memang bisa membuat lawan berhati-hati. Tetapi reputasi yang tidak disertai performa hanya akan menjadi poster mahal di dinding ruang ganti.

Como Naik, MU Sibuk Mencari Jalan Pulang

Berdasarkan laporan yang menjadi sumber tulisan ini, Manchester United terlempar ke peringkat ke-23 klasemen Liga Champions dengan tiga poin. Sementara itu, Como berada di posisi ke-10 dengan enam poin.

Perbedaan itu menjadi ironi tersendiri. MU datang dengan nama besar dan ekspektasi tinggi, tetapi justru Como yang memperlihatkan permainan lebih meyakinkan.

Kekalahan ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi Michael Carrick. Ia harus menjawab pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar siapa yang salah pada gol pertama: bagaimana membangun tim yang tidak mudah panik, tidak terus-menerus mengulangi kesalahan, dan mampu bermain sebagai satu kesatuan?

Sebab, mengganti pemain atau mengubah susunan taktik tidak akan banyak membantu jika persoalan utamanya adalah pola kesalahan yang terus berulang.

Tentu, satu pertandingan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh proyek Manchester United telah gagal. Namun, kekalahan 1-4 dari Como layak menjadi alarm keras, terutama jika masalah yang sama terus muncul.

Pada akhirnya, Manchester United masih punya waktu untuk memperbaiki keadaan. Akan tetapi, suporter juga berhak bertanya sampai kapan mereka harus bersabar.

Julukan Setan Merah boleh tetap gagah. Stadion Old Trafford boleh tetap megah. Sejarah klub boleh terus dikenang.

Tetapi jika setiap pertandingan justru menjadi panggung untuk mengoleksi kekecewaan baru, ada satu hal yang perlu segera dibenahi: jangan sampai Manchester United lebih konsisten membuat suporter mengelus dada daripada membuat lawan kehilangan angka.

Sebab, kalah dalam sepak bola itu biasa. Yang tidak biasa adalah ketika klub sebesar Manchester United membuat kekalahan telak terasa seperti rutinitas.

Artikel ini disadur dari detik.com dan disunting ala jurnalisme satir gacoo.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with