Peristiwa
Beranda / Peristiwa / Laut Luas, Harapan yang Tak Padam: Kisah Voni Bertahan hingga Ditemukan

Laut Luas, Harapan yang Tak Padam: Kisah Voni Bertahan hingga Ditemukan

530050 Maks200kb
Ilustrasi : Voni terombang-ambing di laut lepas yang bergelombang.

Selama 21 hari, Kamaludin Bungan alias Voni (41), nelayan asal Desa Sambiki, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, terombang-ambing di laut lepas. Jauh dari keluarga, tanpa kepastian kapan bisa kembali ke daratan, ia harus bertahan di tengah luasnya lautan hingga akhirnya ditemukan kapal kargo berbendera China.

Perjalanan yang semula dimulai untuk mencari ikan itu berubah menjadi perjuangan panjang mempertahankan hidup. Laut yang setiap hari menjadi tempatnya mencari nafkah, kali ini menjadi ruang sunyi yang memisahkannya dari keluarga dan kampung halaman.

Setelah berhari-hari tanpa kabar, harapan itu akhirnya datang pada Rabu, 7 Oktober 2026. Sebuah kapal kargo berbendera China menemukan Kamaludin di tengah laut. Penemuan tersebut menjadi titik balik setelah ia melewati hari-hari yang penuh ketidakpastian.

Voni saat berada di atas kapal Kargo China.

Kabar keselamatan Kamaludin membawa kelegaan bagi keluarga dan masyarakat Desa Sambiki yang menantikan kepulangannya.

HUT ke-15, NasDem Halteng Gelar Aksi Sosial dan Santuni Anak Yatim

Kini, nelayan berusia 41 tahun itu telah tiba di Liuheng Port, China. Ia sampai di pelabuhan tersebut pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) telah mendampinginya untuk mengurus proses pemulangan ke Tanah Air.

Kepala Desa Sambiki, Iksan Banyo, membenarkan kabar tersebut pada Kamis, 15 Oktober 2026. Ia mengaku bersyukur karena warganya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.

“Alhamdulillah, saudara Kamaludin sudah tiba di Liuheng Port China pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 waktu setempat,” ujar Iksan.

Menurut dia, setibanya di pelabuhan, Kamaludin langsung dijemput pihak KJRI dan dibawa ke kantor untuk mendapatkan pendampingan sekaligus mengatur proses pemulangannya ke Indonesia.

Bagi keluarga, kabar bahwa Kamaludin telah ditemukan dan tiba di China menjadi jawaban atas penantian panjang yang sebelumnya diselimuti kecemasan. Meski masih berada jauh dari kampung halaman, keselamatannya menjadi alasan untuk kembali berharap.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Berangkat Mencari Ikan, Berujung Perjuangan Bertahan Hidup

Kisah Kamaludin bermula pada Rabu, 16 September 2026, sekitar pukul 03.00 WIT. Ia berangkat melaut menggunakan perahu untuk menuju lokasi rumpon, tempat yang biasa menjadi tujuan nelayan mencari ikan.

Namun, hingga keesokan harinya, ia tak kunjung kembali. Waktu terus berjalan, tetapi keberadaannya belum diketahui.

Hari-hari tanpa kabar menjadi masa yang berat bagi keluarga. Kepergian yang semula merupakan rutinitas seorang nelayan berubah menjadi peristiwa yang mengundang kekhawatiran.

Di tengah laut yang terbentang luas, Kamaludin harus menghadapi situasi yang jauh berbeda dari perjalanan melaut biasanya. Ia berada jauh dari rumah, sementara pertolongan tidak selalu dapat dijangkau dengan mudah.

Tidak banyak informasi yang terungkap mengenai bagaimana ia melewati hari demi hari selama terombang-ambing di laut. Belum diketahui pula persediaan makanan dan minuman yang dimilikinya, kondisi cuaca yang dihadapi, maupun cara ia mempertahankan kekuatan fisiknya.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Namun, fakta bahwa ia berhasil ditemukan setelah berhari-hari berada di laut lepas memperlihatkan betapa panjang perjalanan yang harus dilaluinya sebelum akhirnya mencapai tempat yang lebih aman.

Di laut, waktu dan jarak memiliki arti berbeda. Daratan yang biasanya menjadi tempat kembali setelah bekerja dapat terasa begitu jauh. Sementara harapan untuk bertemu keluarga menjadi sesuatu yang sangat berarti di tengah ketidakpastian.

Hingga kapal kargo berbendera China menemukannya pada 7 Oktober, perjuangan Kamaludin belum sepenuhnya berakhir. Ia masih harus menempuh perjalanan menuju China sebelum mendapatkan pendampingan untuk kembali ke Indonesia.

Dari Laut China, Menanti Jalan Pulang

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Morotai, Alhadar Djaguna, membenarkan bahwa Kamaludin telah tiba di China.

Pemerintah daerah, kata Alhadar, terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk memfasilitasi pemulangan Kamaludin hingga ke kampung halamannya.

“Iya benar, dia (Kamaludin) sudah tiba di China pada Selasa, 13 Oktober kemarin. Sementara ini kami berkoordinasi dengan pihak Kemenlu untuk proses pemulangan saudara Kamaludin ke Indonesia hingga ke kampung halaman,” ungkapnya.

Upaya pemulangan tersebut menjadi tahapan penting berikutnya. Setelah berhasil melewati masa sulit di laut dan tiba di pelabuhan China, Kamaludin kini menunggu proses administrasi dan pengaturan perjalanan agar dapat kembali ke Indonesia.

Iksan, mewakili keluarga, turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Basarnas, BPBD, serta pihak kapal kargo berbendera China yang membantu penyelamatan Kamaludin.

Bagi masyarakat Desa Sambiki, kabar ini bukan sekadar informasi tentang seorang nelayan yang ditemukan di negeri orang. Ini adalah kisah tentang seseorang yang berangkat mencari nafkah, terpisah dari keluarganya, lalu ditemukan setelah melewati hari-hari panjang di tengah laut.

Kini, yang tersisa adalah harapan agar seluruh proses pemulangan berjalan lancar. Keluarga menanti saat Kamaludin kembali menginjakkan kaki di kampung halaman, bertemu orang-orang terdekat, dan melanjutkan hidup setelah pengalaman yang tidak pernah mereka harapkan.

Perjuangannya di laut telah sampai pada babak penyelamatan. Namun, perjalanan pulang menuju Desa Sambiki masih harus dituntaskan.

Dan bagi Kamaludin serta keluarganya, kepulangan itu kelak akan menjadi akhir dari penantian panjang sekaligus awal untuk kembali berkumpul setelah terpisah oleh luasnya lautan.

(red/halmaherapost)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with