Umum
Beranda / Umum / Suasana Haru Selimuti Malam Puncak HUT Halteng, Nama Aba Acim Menggema dalam Penutup Puisi D’ Facto

Suasana Haru Selimuti Malam Puncak HUT Halteng, Nama Aba Acim Menggema dalam Penutup Puisi D’ Facto

Gambar Hut Halteng 200kb
D' Facto saat membacakan puisi, dan Aba Acim ( Alfatihah untuk almarhum).

Sebuah nama yang malam itu tidak sekadar disebut, tetapi dihadirkan sebagai ingatan tentang pengabdian, perjalanan, dan sejarah yang tidak semestinya lekang oleh pergantian zaman.

GACOO.ID– Suasana malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-36 Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Sabtu (31/10/2026), mendadak berubah haru ketika penyair D’ Facto menyebut nama mantan Bupati pertama Halmahera Tengah, M. Al Yasin Ali, yang akrab disapa Aba Acim, dalam penutup sebuah puisi sebagai penghormatan. Di antara gemerlap perayaan, terselip sebuah momen yang mengajak orang berhenti sejenak dari riuh kemeriahan: hanya dengan kata Al-Fatihah, untuk Aba Acim.

Melalui bait-bait puisi, D’ Facto menghadirkan kembali nama seorang tokoh yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan awal pemerintahan daerah itu. Sebuah nama yang malam itu tidak sekadar disebut, tetapi dihadirkan sebagai ingatan tentang pengabdian, perjalanan, dan sejarah yang tidak semestinya lekang oleh pergantian zaman.

Di tengah panggung yang semula menjadi ruang hiburan, puisi D’ Facto menjelma menjadi ruang perenungan. Kata-kata yang dilantunkan membawa pesan bahwa sebuah daerah tidak lahir begitu saja. Ada masa yang telah dilalui, ada tangan-tangan yang pernah bekerja, ada pikiran yang pernah dicurahkan, dan ada pengabdian yang menjadi bagian dari fondasi perjalanan Halmahera Tengah.

Nama Aba Acim menjadi titik emosional dalam penampilan tersebut. Penyebutan sosok mantan bupati pertama itu seakan membuka kembali lembaran sejarah tentang masa-masa awal pembangunan daerah. Sejarah yang mungkin tidak selalu hadir dalam percakapan sehari-hari, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas dan ingatan masyarakat.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Puncak keharuan terasa ketika D’ Facto mengakhiri penampilannya dengan mengucap kata Al-Fatihah untuk mengenang Aba Acim. Sebuah penutup sederhana, tetapi sarat makna. Tidak ada kemegahan kata-kata yang diperlukan. Doa menjadi bahasa penghormatan, sementara keheningan dan rasa haru memberi ruang bagi ingatan untuk berbicara.

Momen itu menghadirkan pesan yang jauh melampaui sebuah pertunjukan seni. Bahwa di balik perayaan bertambahnya usia sebuah kabupaten, ada kewajiban moral untuk tidak melupakan mereka yang pernah mengambil bagian dalam membangun fondasinya.

Aba Acim, sebagai bupati pertama, merupakan bagian dari babak awal perjalanan pemerintahan Halmahera Tengah. Setiap masa memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Demikian pula setiap kepemimpinan meninggalkan jejak, baik melalui keputusan, gagasan, maupun pengabdian yang menjadi bagian dari sejarah daerah.

Dalam perjalanan sebuah daerah, pergantian pemimpin adalah keniscayaan. Namun, pergantian kekuasaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus ingatan terhadap masa lalu. Sebab, pembangunan bukanlah pekerjaan satu generasi, apalagi hasil dari satu periode pemerintahan. Ia merupakan rangkaian panjang yang disusun oleh banyak orang, melintasi waktu, kepemimpinan, dan berbagai dinamika.

Halmahera Tengah hari ini terus melangkah dengan berbagai agenda pembangunan di bawah kepemimpinan Bupati Ikram M. Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil melalui jargon IMS-ADIL. Namun, sebesar apa pun cita-cita membangun masa depan, sejarah tetap menjadi pijakan yang tidak boleh diabaikan.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Menghargai para pendahulu bukan berarti berhenti menatap masa depan. Justru dari sejarah, generasi hari ini dapat memahami bahwa kemajuan tidak dibangun dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan mengambil pelajaran dari setiap jejak perjalanan.

Di sinilah penampilan D’ Facto menemukan maknanya. Puisi itu bukan hanya menyampaikan rasa kehilangan atau penghormatan kepada seorang tokoh. Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa jasa seseorang tidak selalu diukur dari seberapa sering namanya disebut ketika masih berkuasa, tetapi dari seberapa lama nilai pengabdiannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Peringatan HUT ke-36 Halteng akhirnya mendapatkan warna yang berbeda. Di antara hiburan dan kemeriahan, ada ruang bagi sejarah untuk kembali dikenang. Di antara sorak penonton, ada doa yang dipanjatkan. Dan di antara pergantian usia daerah, ada nama seorang tokoh yang kembali menemukan tempatnya dalam ingatan.

Malam itu, D’ Facto tidak sekadar menutup puisi dengan Al-Fatihah. Dia seolah menyampaikan pesan bahwa waktu boleh membawa pergi sebuah masa, kepemimpinan boleh berganti, dan generasi boleh silih berganti. Namun, pengabdian yang pernah diberikan kepada daerah tidak semestinya ikut terkubur bersama waktu.

Sebab, sebuah daerah bukan hanya tentang bangunan yang berdiri, jalan yang terbentang, atau angka-angka pembangunan yang dicapai. Sebuah daerah juga tentang manusia, kenangan, perjuangan, dan jasa orang-orang yang pernah menaruh harapan serta kehidupannya bagi tanah yang mereka bangun.

Menaker Bedah Budaya K3 di IWIP, Human Error Bukan Satu-satunya Penyebab Kecelakaan

Dan malam itu, di tengah gemerlap HUT ke-36 Halmahera Tengah, nama Aba Acim kembali hidup—bukan melalui jabatan, bukan pula melalui kekuasaan, melainkan melalui puisi, kenangan, dan doa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with