Pemikiran
Beranda / Pemikiran / Bukan Bangsa Tempe

Bukan Bangsa Tempe

548113 Compressed

Oleh: Jakob Sumardjo
(Kompas, 23 Oktober 1989)

Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, itulah kata-kata Bung Karno tempo dulu, yang selalu dipompakan kepada bangsanya untuk menggembleng menjadi bangsa baja, ulet, tahan bantingan, dan pantang mundur. Memang jelas, bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, bangsa cengeng, bangsa yang hanya cerewet mengurusi hal-hal kecil selama berminggu-minggu, bangsa yang mudah tersinggung, bangsa yang hanya ingat pada hak-haknya tetapi bukan kewajibannya. Kita adalah bangsa besar, yang mampu menelan persoalan-persoalan besar, mampu menderita untuk masa depan, mampu menekan kepentingan pribadi buat kesejahteraan bersama, mampu menyisihkan hak-haknya untuk kewajiban yang penuh tanggung jawab dijalankannya. Kita bangsa baja, bukan bangsa cengeng. Sejarah kita ditaburi hiasan bintang-bintang pahlawan, masa-masa kejayaan, menembus masa-masa sulit, menelan krisis-krisis.

Adalah tugas generasi sekarang untuk tetap menjadi bangsa semacam itu. Bagaimana penilaian generasi mendatang, apabila zaman ini memang berwarna cengeng? Bagaimana kalau foto-foto sejarah kita mereka pasang kelak sebagai wajah-wajah loyo, penuh khianat, gemuk berlemak lantaran tamak? Bagaimana kalau cerita kita zaman kini dikutuk sebagai zaman yang kurang becus, zaman penuh rengekan yang minta terlalu banyak dan memberi terlalu sedikit?

Manusia cengeng adalah manusia manja. Kemanjaan muncul, apabila tanpa kerja keras ia mendapatkan hasil yang berlimpah. Apabila ia sempat duduk di kursi empuk dan dengan tanda tangannya yang lancar, atau pemberian fiatnya, akan memperoleh bagian terbanyak dari kerja keras orang-orang lain. Kedudukan, jabatan, bukan tujuan. Ia adalah tanggung jawab. Semua kegagalan, betapapun kecilnya, yang dilakukan oleh anak buahnya, sepenuhnya adalah tanggung jawabnya.

Praktisi Hukum Soroti Penanganan Bansos Halbar, Kejaksaan Diminta Tidak Terjebak Skema Poco-poco

Ketidak becusan seorang guru dalam mengajar memang bukan ketidakbecusan seorang kepala sekolah, namun itu tanggung jawab kepala sekolah. Dia yang memberi kepercayaan, dia yang memilih sebagai pembantunya, dan dia yang bertanggung jawab atas semua kecakapannya dalam mengajar. Seorang pemimpin adalah seorang ayah, yang akan malu apabila salah seorang anaknya berbuat tercela. Pemimpin cengeng atau pemimpin tempe adalah pemimpin yang hanya rakus terhadap hak-haknya dan tak peduli terhadap kewajibannya, tanggung jawabnya. Seorang menteri perhubungan Jepang mengajukan pengunduran diri, waktu jawatan penerbangannya teledor dan menghasilkan kecelakaan; ia adalah manusia baja, bukan manja.

Manusia, dinilai dari segala apa yang telah dihasilkannya, diperbuatnya. Manusia adalah kebudayaannya. Dan sejarah tak dapat menutupi, menghilangkan dan memanipulasi kenyataan.

Pejabat yang subur adalah berkat kerjanya yang subur. Adalah aneh bin ajaib, apabila para pemimpinnya subur makmur, namun anak buahnya atau lembaga yang dipimpinnya kocar-kacir hidupnya. Masuklah sebuah kota, dan Anda akan mampu melihat bagaimana karakter para pemimpin kotanya. Apakah mereka tipe pemimpin manja atau baja. Wajah sebuah kota itulah wajah para pemimpin kota. Lubang-lubang di jalan, itulah lubang-lubang wajah dan hatinya. Kemesuman kota, itulah kemesuman pemimpinnya. Adalah aneh bin ajaib, apabila pemimpin-pemimpin kota rumahnya rapih-megah bak iklan majalah, tetapi jalan- jalan di kotanya bagai sungai di musim kering.

Karakter cengeng yang hanya mau kerja minimal, tetapi hasil pendapatan maksimal menunjukkan, bahwa kita bukanlah bangsa yang gemar kerja keras. Hanya kerja keras akan membuahkan hasil. Kerja keras menjauhkan sifat tempe. Kerja keras menghilangkan sifat menuntut. Bangsa-bangsa yang maju adalah bangsa yang bekerja keras. Kerja keras dengan sendirinya akan menjauhkan diri dari perkara-perkara sepele. Perkara sepele yang menjadi perkara besar adalah cerminan watak manja, karena kemakmurannya bukan hasil jerih-payah yang sebenarnya. Kerja keras hanya peduli terhadap masalah-masalah besar dan esensial.

Kalau Anda dengan modal suara serak, tetapi mendapat dukungan produser dan pencipta lagu pop, dan berhasil diorbitkan sebagai penyanyi nasional, maka rezeki nomplok tiba-tiba itu akan membuat Anda menjadi pribadi yang mudah tersinggung, mudah cerewet, mudah menuntut, dan selalu minta dilayani serta dipuji. Tetapi kalau Anda dengan modal suara serak berhasil menjadi pujaan pendengar, dengan perjuangan panjang menaklukkan para produser rekaman, maka Anda akan tahan kritik dan makian iri hati, lantaran semua itulah yang membuat Anda mencapai puncak Jangan percaya kepada mukjizat, kepada lotere, kepada keberuntungan yang amat jarang itu. Percayalah hanya kepada kerja keras. Kerja keras itulah mukjizat nyata.

GMKI Desak Kejagung Evaluasi Penanganan Kasus Bansos dan RSP Halbar

Lebih parah dari ketidakgemaran untuk bekerja keras adalah kemauan untuk cepat-cepat menikmati hasil. Memang, siapa menanam berhak menuai panen. Siapa telah bekerja berhak menerima gaji. Tetapi bagi pekerja keras, hasil bukanlah tujuan utama untuk kenikmatan. Pekerja keras bekerja karena selalu menuntut kesempurnaan kerja, kesempurnaan masyarakat, kesempurnaan manusia. Hasil kerja kerasnya bukan untuk ditenggak sekali habis, tetapi untuk dikembangkan demi mereka yang belum berhasil. Kita tidak bisa makan enak dan kenyang di tengah belum berhasil. Kita tidak bisa makan enak dan kenyang di tengah mereka yang lapar. Kewajiban kita membuat mereka makan, agar nasi yang kita telan tidak mengganggu tenggorokan.

Gejala yang sebaliknya kini terjadi. Perlombaan untuk menunjukkan diri sebagai insan yang berhak menikmati hasil kerja nampak di mana-mana. Pemandangan orang dengan kalem menikmati rokoknya, sambil menyetir mobil, sambil tidak peduli terhadap deretan kendaraan lain yang antre di belakangnya, adalah lambang hedonisme ini. ***

Iklan-iklan menggambarkan bagaimana nikmatnya duduk berdua di kursi malas sambil menghitung keuntungan bank; bagaimana nikmatnya memiliki rumah mungil yang indah bak vila di Cipanas; bagaimana nikmatnya menghisap kretek sambil nangkring di jip untuk berburu (sembari didampingi cewek cakep). Semua itu memberikan simbol tegas: nikmatilah hari ini, jangan peduli masa depan. Tidak mau tahu apakah negara ini kelak akan punah, yang penting saya, pada masa hidup saya, dapat menikmati hari sepuas-puasnya. Semangat hidup begini membuat manusia menjadi cengeng, menjadi mudah tersinggung kalau kepentingannya sedikit terganggu, menjadi sangat egois, menjadi buta terhadap kenyataan kehidupan.

Sikap hidup kita meniru bangsa-bangsa yang sudah maju. Tetapi yang kita tiru hanya bagaimana mereka menikmati hasil jerih payah kerja, keras mereka, dan bukan bagaimana mereka bekerja. Kemakmuran bersama yang mereka peroleh bukan jatuh dari langit, tetapi berkat kerja keras, disiplin tinggi, efisiensi, perencanaan ketat, kesediaan menerima kegagalan, jerih-payah pengorbanan demi masa depan. Dan kita sebagai bangsa di sini, melihat kemakmuran mereka. Kita ingin mencontoh cara mereka menikmati jerih payahnya. Dan kita menerima remah-remah roti mereka, dan merasa sudah ikut maju.

Kita memang bukan bangsa tempe. Kita pernah menunjukkan, bagaimana kita bersedia berkorban demi masa depan anak-anak kita. Kita pernah mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan bersama. Inilah warisan nilai-nilai yang harus tetap dipelihara. Dahulu kita pernah kerja keras demi kepentingan bersama, saling membantu demi kepentingan bersama, hanya kini perlu diterjemahkan ke dalam zaman yang memang sudah berbeda. Pada masa itu si pengkhianat kita adili bersama. Mereka yang makan kenyang di tengah kelaparan kita curigai.

Menaker Bedah Budaya K3 di IWIP, Human Error Bukan Satu-satunya Penyebab Kecelakaan

Cerita semacam itu bisa dicari dalam sejarah bangsa, dalam sejarah perjuangan yang nyata. Musuh kita memang nyata. Tetapi kini musuh itu adalah diri kita sendiri, kehendak kita untuk menikmati sebelum kerja keras.

  • Jakob Sumardjo, Dosen ASTI, Bandung.

Sumber: Diunggah akun facebook Herry Anggoro Djatmiko, (23/10/2026).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with